Sabtu, 17 April 2010

Menjadi Orang Yang Disukai Orang lain

Belajar Dari Kasus

Sebetulnya penting nggak sih disukai banyak orang itu? Jawabannya bisa penting dan bisa tidak. Ini tergantung keadaan, alasan, dan konteks. Tetapi, secara umum, naluri dasariyah manusia itu punya kecenderungan untuk ingin disenangi. Buktinya, orang akan merasa bahagia jika dirinya disenangi banyak orang. Sebaliknya, orang akan merasa gelisah atau (minimalnya) kurang bahagia ketika dibenci atau kurang disenangi.

Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana supaya kita termasuk orang yang disengani orang lain? Secara teori memang tidak kita ditemukan tehnik baku untuk itu. Dari praktek hidup, ada petunjuk yang bisa kita tangkap. Salah satunya adalah, manusia itu cenderung kurang menyenangi sifat atau prilaku yang ekstrim (terlalu di tepi atau terlalu) untuk hal-hal yang sifatnya pilihan / bisa dipilih. Tetapi ini tidak semuanya juga. Kalau melihat beberapa kasus yang umum, prilaku atau sifat yang berpotensi mengundang ketidaksenangan itu antara lain:

Pertama, terlalu diam atau terlalu ramai. Idealnya, kita memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara tentang dirinya, tentang pengetahuannya atau tentang pengalamannya. Di samping itu, kita pun perlu memberikan kesempatan untuk mendengarkan. Sehingga yang terjadi adalah dialog untuk saling memberi-menerima atau terjadi percakapan yang hangat. Kehangatan dialog bisa mengundang kesenangan atau kesan yang menyenangkan.

Tapi, jika kita hanya menjadi pendengar yang terlalu diam, pasif, lebih-lebih lagi kurang antusias untuk memberikan tanggapan kepada orang lain, ini berpotensi mengundang ketidaksenangan. Sebaliknya juga begitu. Jika kita yang mendominasi pembicaraan, kita mengungkapkan diri kita panjang lebar, lebih-lebih ditambah dengan sikap yang kurang menunjukkan rasa hormat ketika orang lain mengutarakan dirinya, inipun berpotensi mengundang ketidaksenangan.

Jadi, terlalu diam itu tidak bagus, namun terlalu ramai juga kurang bagus. Terlalu pasif tidak bagus, tetapi terlalu aktif juga tidak bagus. Terlalu diam membuat orang lain boring, tetapi terlalu ramai membuat orang lain merasa tidak nyaman. Menurut teori hubungan, terlalu diam atau terlalu pasif itu biasanya dilakukan oleh sebagian orang yang abdicraft. Lawannya adalah autocraft, terlalu aktif, terlalu ingin mendominasi, dan seterusnya. Yang disarankan adalah menjadi orang yang demokratik: tidak memaksakan kehendak pribadi, pun juga tidak terlalu pasif dan dingin. Terlalu ramai sering diberi julukan "omdo"(omong doang) atau big mouth (si mulut besar). Sebaliknya, terlalu diam sering diberi julukan "si patung", pengekor, dan lain-lain.

Kedua, terlalu ikut campur atau terlalu cuek. Idealnya, yang dibutuhkan adalah memberikan perhatian (care) atau share feeling (berbagi rasa) pada saat-saat dibutuhkan (empati). Perhatian ini banyak. Bisa dalam bentuk perasaan, sikap atau tindakan. Orang akan merasa lebih dihormati ketika dia tahu kita menaruh empati. Empati adalah peduli yang kita nyatakan dalam berbagai bentuk. Dalam konsep pengembangan-diri, empati termasuk pilar dalam meningkatkan interpersonal skill. Interpersonal skill adalah kemampuan seseorang dalam membuka, menjaga, dan memberdayakan hubungan (dengan orang lain). Ciri-ciri orang yang punya kemampuan bagus di hal ini, antara lain:

- Empati: bisa berbagi dan peduli pada orang lain

- Mendukung kemajuan orang lain (developing others)

- Berkomunikasi secara efektif

- Bisa mendengarkan orang lain

- Punya komitmen yang tinggi dalam menaati janji atau kesepakatan

- Bisa menghormati orang lain

- Bisa melihat sisi positif dan negatif secara objektif

Jika empati mengundang kesenangan orang, maka terlalu ikut campur ke dalam wilayah / urusan pribadi orang lain sering dinilai berpotensi mengundang ketidaksenangan. Lebih-lebih jika campur tangan itu dinilai malah menambah masalah (bukan menyelesaikan / mengurangi masalah) atau membuat orang merasa kurang nyaman. Ada sih wilayah tertentu yang diharapkan campur tangan kita. Tetapi biasanya tetap ada limit / pembatas yang sudah dipasang lampu merah yang artinya adalah: jangan terlalu masuk ke dalam. Memang ini jarang diucapkan.

Begitu juga terlalu cuek, terlalu tidak perduli, atau terlalu masa bodoh. Yang lebih sering terjadi, terlalu cuek sama jeleknya dengan terlalu ikut campur. Kalau melihat teori tentang hubungan manusia, terlalu ikut campur itu biasanya dilakukan oleh sebagian orang-orang yang oversocial. Sebaliknya, terlalu cuek itu biasanya dilakukan oleh sebagian orang yang undersocial. Baik yang over atau yang under, keduanya sering dinilai kurang bagus. Yang disarankan adalah menjadi inklusif: tidak terlalu cuek dan tidak terlalu ikut campur.

Ketiga, terlalu tertutup atau terlalu terbuka. Idealnya, kita perlu membuat penjelasan-diri tentang hal-hal yang perlu dijelaskan dan perlu tidak menjelaskan hal-hal yang tidak perlu. Apanya yang perlu dan apanya yang tidak perlu? Inipun sulit dijelaskan. Umumnya, yang perlu dan yang tidak perlu itu hanya bisa dipahami oleh perasaan.

Dalam literatur keilmuan dikenal istilah self-disclosure, pengungkapan-diri yang dimaksudkan untuk meningkatkan makna / kualitas hubungan. Self-disclosure ini berbeda dengan self-description (penjelasan-diri). Perbedaan yang paling mendasar adalah, self-disclosure itu merupakan bentuk pengungkapan-diri tentang hal-hal yang signifikan bagi diri sendiri dan bagi orang lain (benar-benar penting untuk membangun hubungan).

Self-diclosure ini bukan saja akan mengundang kesenangan dan keakraban, tetapi malah bisa mengundang kepercayaan (trust). Dalam Psychology & Life (1979) dinyatakan bahwa trust dimulai dari self-diclosure. Jadi, biasanya, dari pengungkapan lahirlah keakraban dan dari keakraban lahirlah kepercayaan. Tapi, katanya, self-disclosure di sini bukan sebatas pada pernyataan mulut (verbal statement of self-diclosure), melainkan serangkaian tindakan yang bisa menjelaskan siapa diri kita. Kalau apa yang kita ucapkan itu berbeda dengan apa yang kita lakukan, bisa-bisa ini malah mengundang ketidaksenangan dan ketidakpercayaan.

Meskipun demikian, terlalu terbuka juga mengundang ketidaksenangan. Apa-apa bilang sama orang lain atau ditunjukkan kepada orang lain sehingga bisa ditafsirkan pamer. Bukan hanya itu, terlalu terbuka juga kerapkali menjadi kelemahan. Untuk membangun keakraban, terlalu terbuka itu seringkali sama jeleknya dengan terlalu tertutup. Terlalu tertutup sangat sering ditafsirkan sebagai upaya untuk menjaga jarak, seperti layaknya minyak dan air. Kalau ini diterapkan kepada orang yang baru kenal tentu baik-baik saja, namun kalau diterapkan pada orang yang sudah lama menjalin hubungan, biasanya ini kurang powerful untuk membangun keakraban.

Tiga poin di atas itu memang baru kasus-kasus umum yang punya ketergantungan pada konteks yang sangat spesifik. Artinya tidak bisa dijeneralisasi. Misalnya saja ada orang yang cerewetnya minta ampun. Untuk orang yang sudah mengenal dan memahami, tentu tidak ada masalah. Tapi untuk situasi baru dan orang baru, bisa saja hasilnya beda.

Dalam prakteknya, senang dan tidak senangnya orang itu lebih sering terkait dengan soal pemahaman dan kesaling-memahami (mutual understanding). Karena itu, banyak orang yang membenci orang lain karena salah paham, kurang paham, atau tidak saling memahami. Begitu juga banyak orang yang menyenangi orang lain karena sudah saling memahami.

PRINSIP & TEORI LIKING & DISLIKING

Dalam teori ilmu pengetahuan, kita bisa temukan banyak penjelasan seputar liking (suka) dan disliking (ketidaksukaan). Dengan melihat ini mudah-mudahan bisa kita gunakan untuk memahami realitas dan bisa pula kita gunakan untuk memperbaikinya. Sebagian dari sekian teori pengetahuan yang berbicara soal like dan dislike ini antara lain:

Physical Attractiviness theory. Secara naluri, orang akan lebih menyukai orang lain yang menarik dari sisi penampilan fisik. Ini misalnya saja: cantik, tampan, bersih, rapi, teratur, dan seterusnya dan seterusnya. Orang yang penampilannya paling tidak rapi sekalipun terkadang tidak menyukai orang lain yang tidak rapi. Perokok sendiri sering tidak menyukai perokok lain yang merokoknya sembarangan.

Competency theory: Orang cenderung lebih menyukai orang lain yang lebih kompeten, punya banyak kebisaan, lebih kreatif, lebih terampil, lebih smart, dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan untuk urusan pekerjaan, orang lebih menyukai / mempercayai orang lain karena melihat kompetensinya ketimbangan saudaranya, anaknya atau sahabat karibnya.

Reciprocal theory. Orang cenderung menyukai orang lain yang menyukainya (ada timbal baliknya). Like attracts like, begitu katanya. Tapi ini masih dengan catatan bahwa kesukaan yang kita tunjukkan itu haruslah genuine, bukan dibuat-buat atau hanya untuk mencari muka. Kalau itu dibuat-buat atau hanya sekedar untuk mencari muka, biasanya malah menimbulkan ketidaksenangan.

Similiarity & Complementary theory. Orang cenderung menyukai orang lain yang punya beberapa kemiripan / kesamaan dengan dirinya. Ini misalnya saja: satu daerah, satu almamater, satu partai, satu hobi, satu visi, satu pemikiran, satu perasaan, dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi katanya, kesamaan dan kemiripan ini tidak mampu menghasilkan kesenangan yang langgeng apabila tidak ditopang oleh unsur lain yang menjadi penguatnya. Karena itu harus ada complementary-nya: saling mengisi, saling mendukung, saling memberi-mendapatkan, dan seterusnya. Jika complementary-nya tidak muncul, maka dengan sendirinya similiarity-nya itu hanya sekedar masa lalu.

Exchange theory. Orang akan menyenangi orang lain yang memberikan untung, nilai plus, atau manfaat kepadanya. Minimalnya tidak sampai merugikan. Soal itu berupa materi atau non-materi, itu soal konteks. Prinsipnya, tidak ada manusia yang bisa menerima kerugian dari proses interaksi yang dijalankan.

Reinforcement theory. Orang akan menyenangi orang lain yang menghargai dirinya. Ini tidak saja dialamatkan secara khusus kepada orang yang memberi penghargaan itu, melainkan juga kepada orang yang dekat dengan si pemberi. Memberi penghargaan dapat memasukkan bentuk-bentuk perasaan positif.

Gain-loss theory. Menurut teori ini, kita akan menyukai orang lain yang evaluasinya, koreksinya, atau dukungannya kepada kita cenderung selalu membaik, bukan semakin memburuk atau biasa-biasa saja. Sebaliknya juga begitu. Kita lebih cenderung akan tidak senang sama orang lain yang makin lama bukannya makin baik penilaiannya, sikapnya atau perlakuannya.

Jika di atas kita sudah melihat kasus-kasus umum dengan konteks yang spesifik, nah di bawah ini mari kita melihat nilai-nilai dasar yang pasti akan menghasilkan kebencian atau kesenangan. Nilai-nilai dasar ini berlaku universal, tidak melihat orang, keadaan, konteks, tempat, dan tidak tergantung pada atribut eksternal (misalnya agama, suku, pendidikan, atau status sosial).

Apa saja nilai-nilai dasar itu? pasti sebagian besarnya sudah kita ketahui. Yang diperlukan oleh kita bukan pengetahuan, tetapi menyadarinya dalam praktek hidup. Ini misalnya saja:

- Takabbur: mengangkat diri sendiri dengan motif (sembunyi atau terang-terangan) untuk merendahkan orang lain

- Iri-dengki (hasad): senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang; menginginkan nikmat orang lain pindah ke dirinya, menginginkan nikmat orang lain hilang, dst

- Kurang menjaga komitmen / kesepakatan: ingkar janji, membohongi, menipu, dan seterusnya

Kalau melihat literatur psikologi, akan kita temukan juga istilah personality disorder, keganjilan yang berpotensi mengundang ketidaksenangan orang lain apabila sudah melebihi batas proporsional. Ini misalnya saja:

-Terlalu curiga sama orang lain, tidak bisa memaafkan orang lain (terutama dari yang kecil-kecil), gampang bermusuhan, suka mengkritik segalanya

- Menampilkan aura pesimisme, mengurung-diri, nggak peduli dengan kritikan atau pujian

- Suka cerita yang aneh-aneh (tidak masuk akal), suka berpenampilan yang aneh (di luar untuk pentas seni), suka punya kekhawatiran yang berlebihan terhadap keadaan

-Temparemen tinggi, ugal-ugalan (lose control), tidak peduli dengan tanggung jawab, kerap bikin aksi yang membahayakan orang lain

-Mood yang tidak stabil (gampang mencintai dan gampang membenci), terlalu besar bergantung pada orang lain, atau terlalu gampang tersinggung

- Mudah terpengaruh, plin-plan, ngomongnya ngacau kemana-mana

-Arogan, punya keinginan berlebihan untuk dihormati, gampang tersinggung, susah memahami posisi orang lain

- Terlalu minder, kurang mau mengambil resiko, mau enaknya saja tetapi resikonya tidak mau, jarang ke luar atau sedikit interaksi dengan orang banyak

- Terlalu diam karena takut dibenci, menggantungkan kebahagian dirinya pada orang lain, sering merasa tak punya siapa-siapa di dunia ini

-Terlalu idealis, terlalu kaku mempraktekkan pengetahuan, tradisi, atau pemahaman agama (memedomani "kebenaran-sendiri" secara berlebihan), keras kepala

Itu semua adalah contoh-contoh yang bisa kita jadikan acuan dalam berinteraksi. Memang tidak semuanya dapat mengundang ketidaksenangan, tetapi minimalnya dapat menghambat keakraban.

Beberapa Catatan

Terlepas apakah kita menganggap persoalan "disenangi" dan "kurang disenangi" ini sebagai urusan penting atau tidak, namun ada beberapa poin yang perlu kita jadikan catatan-pribadi. Ini antara lain:

-Perlu berpikir realistis yang berdasarkan pada akal sehat. Artinya, tidak mungkin ada orang yang disenangi oleh semua orang atau dibenci oleh semuanya. Kaidahnya adalah sebagian besar, sebagian kecil, umumnya, mayoritasnya, dan lain-lain.

-Jangan menjadikannya sebagai tujuan. Kalau kita ingin melakukan sesuatu atau menampilkan sifat tertentu, namun tujuan kita hanya untuk disenangi orang, biasanya yang kita dapat malah sebaliknya. Jadi gimana? Idealnya adalah, kita melakukan hal-hal positif, berkepribadian positif, bersikap positif, dan lain-lain, tetapi itu semua kita hayati sebagai proses aktualisasi-diri (perbaikan-diri). Titik. Soal orang itu suka atau tidak, ini urusan mereka.

-Tidak cukup berhenti hanya pada level "disenangi". Kalau dikembalikan ke urusan pengembangan-diri (self-development), yang paling penting adalah dipercaya orang lain. Bahwa untuk dipercaya itu harus disenangi dulu, memang itu lebih sering benarnya.

-Jangan menjadikannya sebagai bungkus belaka atau trik yang menipu atau mengelabuhi (orang lain dan diri sendiri). Misalnya kita berprilaku “sok� bersih, sopan, semangat, intelek, bodo, dan lain-lain, namun itu semua didasari motif untuk melancarkan urusan yang merugikan orang lain. Idealnya, kita perlu menjadikannya sebagai karakter atau sifat, bukan sebatas sebagai ekspresi kepribadian yang dikondisikan oleh kepentingan sesaat. Memang terkadang ini sulit dihindari. Tetapi, baiknya kita tetap beracuan pada karakter atau sifat.

-Tetap dimulai dari dalam diri kita lebih dulu. Ingin disenangi orang lain tetapi kurang senang dengan orang lain, ini sulit. Ingin hubungan terjaga dengan bagus, tetapi kita (dalam prakteknya) melakukan hal-hal yang merusak, ini juga sulit.

Jumat, 16 April 2010

menjadi Pribadi Tangguh

Baik buruknya kehidupan kita ternyata sangat ditentukan oleh pikiran. Kendalikan pikiran ke arah positif, maka kita tidak menjadi sosok emosional melainkan faktual. Hidup kita akan bahagia, percaya diri, optimis, dan penuh gairah.

Pikiran merupakan kekuatan paling menakjubkan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Dengan kekuatan pikiran, manusia mampu menembus dasar bumi, menyelami kedalaman samudra, dan menjelajahi angkasa luar. Dengan kekuatan pikiran, manusia melahirkan ilmu-ilmu pengetahuan, membangun harapan-harapan baru, dan membuat mimpi-mimpi menjadi kenyataan. Bahkan, dengan kekuatan pikiran, kualitas hidup seseorang bisa ditentukan.

Para pakar kejiwaan memandang pikiran sebagai faktor terpenting bagi kehidupan manusia. Hampir semua sistem kehidupan kita, gerak tubuh, suasana hati, bahkan hidup kita, dikontrol oleh pikiran. Ketika kita melihat pacar atau pasangan kita berjalan di depan kita, pikiran kita mungkin akan memerintahkan mulut kita untuk menegurnya, menyuruh kaki kita mempercepat langkah, atau meminta kita untuk tidak melakukan apa-apa.

Demikian pula halnya dengan perasaan kita, dengan informasi yang terkumpul di otak, pikiran memberikan perintah-perintah khusus kepada "hati" untuk menentukan suasana yang diinginkan. Umpamanya, suatu hari kita ditinggal kekasih, pikiran kita akan memilih informasi-informasi yang berhubungan dengan kehidupan cinta kita dengannya, yang terekam oleh otak. Katakanlah pikiran kita memilih informasi yang berhubungan dengan hal-hal indah, yang pernah kita alami bersamanya. Pikiran kita akan mengolahnya dan menghasilkan instruksi, umpamanya, kita menyesal dan sedih karena semua keindahan itu harus berakhir.

Instruksi akan diteruskan ke "hati" melalui perangkat psikologis kita, dan perasaan kita pun menjadi sedih. Sebaliknya, apabila pikiran kita memilih informasi-informasi yang berhubungan dengan hal-hal menyebalkan dari si dia, umpamanya hidung peseknya, kebiasaan buruknya, atau kesukaannya berutang, pikiran kita akan mengolahnya menjadi instruksi bahwa kita senang dan bahagia karena mimpi buruk itu telah berakhir. Hati kita pun senang karenanya.

Faktual dan sensitif

Bila pengaruh pikiran sangat kuat terhadap perasaan kita, berarti kita orang faktual, orang yang selalu bertindak atau bersikap berdasarkan fakta. Tetapi bila pengaruh pikiran sangat lemah terhadap perasaan kita, maka kita termasuk orang sensitif.

Orang faktual biasanya lebih mampu mengendalikan perasaan. Soalnya, pikirannya mampu mengolah fakta-fakta yang terekam di otak secara lebih mendetil sebelum dimasukkan ke "hati". Sebaliknya, orang sensitif akan cenderung emosional, karena biasanya pada saat merespons realitas yang tengah dihadapi, pikirannya tidak mengolah kembali fakta-fakta yang terekam di otak, akan tetapi langsung memasukkannya ke dalam "hati" apa adanya. Ia mengolah informasi dengan perasaannya.

Untuk memperjelas, ambilah contoh seseorang tanpa sengaja melihat kekasihnya tengah duduk berdua dengan orang lain yang berlainan jenis kelamin dan tidak ia kenal. Bila dia orang sensitif, otaknya merekam semua kejadian yang dilihatnya. Pikirannya tidak mengolah melainkan langsung meneruskannya ke dalam "hati" untuk diolah. Karena "hati"-nya yang mengolah, ia mungkin segera mendatangi mereka dan tanpa babibu langsung melayangkan bogem mentah.

Sebaliknya, bila ia seorang faktual, kejadian-kejadian tadi direkam di otaknya, diolah terlebih dahulu oleh pikiran sebelum diteruskan ke "hati". Pikirannya akan membuat pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan. Bila kekurangan data, maka ia akan menghasilkan kemungkinan-kemungkinan lain. Misalnya, kemungkinan orang lain itu adalah saudara atau sahabat kekasihnya. Atau mungkin pula teman selingkuh kekasihnya. Kemungkinan-kemungkinan itu kemudian diteruskan ke "hati" sebagai perasaan ingin tahu. Karena pertimbangan pikiran inilah ia mungkin akan mendekatinya untuk mencari tahu hal sebenarnya, ketimbang langsung menghakimi.

Proses itulah yang menyebabkan orang faktual cenderung tenang, penuh perhitungan, dan mampu mengendalikan diri. Sebaliknya, orang sensitif cenderung cepat gelisah, tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan, tidak sabar, dan sukar mengendalikan diri.

Persepsikan kenyataan secara positif

Dengan pengoptimalan pikiran, kita dapat mengendalikan perasaan dan juga kehidupan ke arah yang kita inginkan. Dengan pikiran kita dapat mengubah perasaan sedih menjadi perasaan senang, takut menjadi berani, minder menjadi percaya diri, pesimis menjadi optimis, atau bosan menjadi penuh gairah. Maka tidak salah bila seorang filsuf, Marcus Aurelius, memiliki pandangan bahwa "Hidup kita ditentukan oleh pikiran".

Kalau berpikir tentang hal-hal menyenangkan, maka kita akan menjadi senang. Jika memikirkan hal-hal menyedihkan, kita akan sedih. Begitu pula bila berpikir soal hal-hal menakutkan kita akan menjadi takut.

Rasanya memang sulit dipercaya. Namun, itulah adanya. Stanley R. Welty, Presiden Wooster Brush Company, berpendapat, "Pada saat keluar rumah di pagi hari, kita sendirilah yang menentukan apakah hari itu akan jadi baik atau buruk, karena tergantung bagaimana kita menjalankan pikiran kita. Dapat tidaknya kita menikmati hari itu sangat tergantung pada cara kita berpikir."

Kalau merasa kantung kita menipis, lalu mengeluh seakan-akan kita orang paling sial, bisa jadi hari itu menjadi hari paling membosankan. Tapi bila kita bangun pagi, memandang keluar jendela dan melihat bagaimana burung-burung bersiul menyambut pagi sambil merasakan kesejukan embun, tanpa mempedulikan kantung yang semakin kempis, mungkin kita akan mendapati hari itu sebagai hari baik. Bagaimana pun cuaca hari itu, bagaimana pun beratnya masalah yang dipikul hari itu, pikiranlah yang menentukan kehidupan kita. Yang kita pikirkan ketika itu, itulah hidup kita.

Yang bisa dilakukan adalah mengendalikan pikiran. Jangan biarkan pikiran kita membuat perasaan menjadi tidak enak. Senantiasa persepsikan kenyataan secara positif.

"Bila perlu berusahalah tersenyum dalam menghadapi situasi sesulit apa pun. Ada saat-saat di mana kita harus pasrah dan tertawa. Humor dalam hidup ini sangat penting. Jangan lupa bahwa hal-hal sederhana ini dapat membantu Anda mempertahankan perspektif," kata Dale Carnegie, pendiri Dale Carnegie & Associates.

Bila dalam kesedihan kita mencoba tersenyum, sebenarnya kita tengah mencoba melepaskan diri dari perasaan sedih itu. Saat itu kita tengah menetralkan perasaan negatif di dalam diri. Hal ini sangat baik dan bisa membantu agar kita tidak terlalu larut dalam duka.

Demikian pula ketika tengah dihadapkan pada masalah-masalah berat, senyum kita sedikit banyak akan membantu melepaskan ketegangan. Selanjutnya, biarkan diri relaks, pandang kenyataan di hadapan kita secara positif, karena dengan begitu kita bisa mengambil hikmah dari apa yang tengah dihadapi. Lalu pikirkan hal-hal yang dapat mengembalikan kegembiraan kita.

"Kalau ada masalah, relakslah. Santai saja. Pikirkan saja apa yang akan Anda lakukan selanjutnya, dan apa tindakan Anda untuk itu," kata Welty.

Memang, ada banyak hal yang menyakitkan, yang membuat kita cemas atau kesal. Namun jangan larutkan diri di dalamnya. Jangan biarkan masalah apa pun membuat kita patah semangat. Berpikirlah pada hal-hal positif yang bisa dilakukan. Biarkan semua masalah berlalu tanpa meninggalkan luka fatal.

Dengan begitu kita akan menjadi orang tangguh yang tak mudah jatuh. Pikiran kita menjadi terbiasa untuk selalu positif, dan kita akan lebih mudah mencapai cita-cita. Bukan cuma itu, pikiran positif serta kepercayaan diri kita akan menarik orang lain bergabung dengan kita. Mereka tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri menghadapi semua masalah. Malah dengan senang hati akan menemani dan membantu kita melewati semua kesulitan. Dan yang lebih penting, hidup kita akan menjadi lebih menyenangkan. (Ary Santosa Yudha)Indomedia.com

10 Cara Menjadi Pelajar Berprestasi

Pengertian Prestasi :
Menurut Adi Negoro, prestasi adalah segala jenis pekerjaan yang berhasil dan prestasi itu menunjukkan kecakapan suatu bangsa. Kalau menurut W.J.S Winkel Purwadarmtinto, “ prestasi adalah hasil yang dicapai “ dari pengertian diatas maka prestasi bisa didefinisikan adalah sebuah usaha, pekerjaan (Seperti belajar) yang dilakukan dengan sunguh-sunguh sehingga mencapai hasil yang terbaik dan maksimal.
Pengertian Prestasi Belajar :
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Gagne (1985:40) menyatakan bahwa prestasi belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (1990:110) bahwa hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Bagaiaman Menjadi Pelajar berprestasi?
Menjadi pelajar yang berprestasi adalah dambaan setiap orang, namun tidak semua orang bisa menjadi orang berprestasi. Prestasi belajar sesunggunya bisa di capai oleh semua orang tak mengenal ia kaya,miskin, orang yang berasal dari kota atau pedesaan semuanya bisa berprestasi. Di bawah ini beberapa hal yang harus dilakukan agar kita menjadi orang berprestasi :

1. Sucikan Niat/Luruskan niat
Dalam ajaran Islam niat merupakan hal yang utama apabila sesorang akan melakukan pekerjaan atau aktvititas, terlebih aktivitas yang berhubungan yang bernilai ibadah. Mencari ilmu atau belajar dalam Islam adalah sebuah kewajiban yang telah ditentukan ketika manusia lahir sampai dengan masuk liang lahat kembali, serta mencari ilmu juga merupakan ibadah. Jadi mari kita luruskan niat kita dalam belajar selain untuk menambah wawasan juga adalah untuk ibadah kepada Allah.
2. Kesungguhan Dalam belajar
Menjadi pelajar yang berprestasi memerlukan kesungguhan dalam belajar, dalam Islampun dijarkan barang siapa yang bersunguh-sunguh maka ia akan berhasil. Oleh sebab itu sekolah bukanlah sekedar untuk bermain, mencari teman, Jajan dan lain sebagainya tetapi sekolah adalah aktvititas belajar yang memerlukan kesungguhan.

3. Disipin dalam menggunakan Waktu
Time Is money atau waktu adalah pedang, beberapa Istilah ini sangat populer dalam kehidupan kita sehingga orang barat sering mengatakan waktu adalah uang, oleh sebab itu mereka tak ingin menggunakan waktu dengan sia-sia. Disiplin dalam menggunakan waktu merupakan hal yang utama untuk mecapai sebuah keberhasilan secerdas dan sekaya apapun kita tanpa displin maka prestasi itu takan pernah kita bisa capai. Disiplin dalam waktu harus kita lakukan dalam kehidupan sehari mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Cobalah kita buat agenda kita seperti mulai dari aktivitas tidur, sholat, mengaji, belajar, bermain, berolahraga, ikut les dan lain sebagainya, apabila jadwal ini bisa kita lakukan dengan disiplin insyaallah kita akan menjadi orang –orang yang berprestasi.
4. Percaya diri
Percaya diri merupakan hal yang penting bagi setiap orang, karena kita harus percaya pada kemampuan yang kiti milki. Banyak orang yang tidak percaya diri karena merasa dirinya tidak padai, sehingga akhirnya harus tergantung pada orang lain. Setiap orang sesungguhnya harus merasa percaya dengan kemampuan yang dimilkinya betatapun hasil prestasinya tidak sebagus yang dicapai orang lain tetapi itulah hasil maksimal dari percaya diri yang dimilki.
5. Tentukan Target
Pada perjalana setiap manusia tentu selalu punya tujuan kemana kita akan melangkah dan apa yang akan kita lakukan. Jika kita ingin memilki prestasi maka kita harus memilki target dalam belajar, berapa nilai yang harus kita capai. Misalnya kita memiliki target nilai Matekmatika 80, Bahasa Indonesia 90, menang kejuaran olimpiade, kejuaran Futsal dan lain-lain sebagainya. Semua target yang sudah kita tentukan harus dilakukan secara maksimal agar target-target tersebut bias tercapai.
6. Tumbuhkan Motivasi
Motivasi atau dorongan perlu dimilki oleh setiap orang baik motivasi dari diri sendiri ataupun dari orang lain. Pelajar yang berprestasi adalah pelajar yang memiliki motivasi besar untuk maju, maka dia akan selalu memberi semangat pada hatinya untuk semangat dalam belajar.
7. Ikuti kegiatan berorganisasi dan Ekstrakulikuler
Berorganisasi merupakan hal yang menyenangkan agapan organisasi dapat mengganggu pelajaran adalah anggapan yang salah. Justru banyak orang yang berprestasi dengan berorganisasi, para pemimpin negeri ini atau para intelektual yang ada pada bangsa ini juga adalah para alumni organisasi baik organisasi kesiswaa, mahasiswa, masyarakar, pemuda dan lain-lain. Ikut berorganisasi dapat melatih kemandirian,disiplin dan kepekaan siswa dalam hidup ber sosial. Bagi para pelajar yang ikut organisasi juga mempunyai prestasi merupakan sebuah kebanggaan tersendiri.
8. Kita semua punya prestasi
Sesungguhnya setiap diri kita memilki prestasi karena prestasi itu bukan dilihat dari kemampuan itelektual atau kognitif saja, tetapi setiap kelebihan yang kita milki dan berguna bagi orang banyak adalah prestasi juga. Ingat tak mungkin Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sama, oleh karena itu dalam prestasipun kita memilki perbedaan ada yang berprestasi dalam akademik, kesenia, olahraga dan lain sebagainya.
9. Minta doa dari orang tua
Ridho Allah tergantung ridho orang tua, jadi mintalah doa dari orang tua dalam setiap langkah yang kita lakukan Agar Allah memberi kemudahan dalam aktivitas belajar kita.
10. Sholat dan berdoa
Segala Ikhtiar atau usaha sudah kita Lakukan yang terakhir adalah kewajiban kita melaksanakan perintah Allah salah satunya adalah sholat dan berdoa, semoga semakin sering kita mendekatkan diri kita pada Allah semakin Allah memberi kemudahan kepada kita.

“Selamat mencoba dan tetap bersemangat”

oleh: adek bahri (puja suganda bahri)

PEMBENTUKAN BUMI DARI SEGI SAINS

teori yang paling populer adalah teori big bang.

Awalnya ada 1 bintang raksasa yang kemudia mengalami supernova, meledak dan materialnya menyebar kemana2.

Material besar yang menyimpan energi menjadi bintang, sementara yang lebih kecil menjadi planet, yang lebih kecil menajdi bulan, asteroid, dan benda langin lainnya. Sesuai kaidah bahwa dua benda akan tarik-menarik sesuai dengan gravitasi yang dimilikinya (yang dipengaruhi oleh massa masing2 benda tersebut), maka benda yang massanya lebih kecil akan tertarik oleh gravitasi benda yang massanya lebih besar. tapi karena adanya gravitasi benda yang lebih kecil tersebut, maka benda yang lebih kecil akan berputar mendekat ke benda yang lebih besar sampai akhirnya dicapai kesetimbangan antara kedua gravitasi kedua sehingga benda yang lebih kecil akan ber-revolusi mengelilingi benda dengan massa yang (jauh) lebih besar. Contoh, planet yang mengelilingi matahari.

Kemudian planet inipun mengalami proses pembentukan dirinya. Sebagai pecahan dari bintang, tentu saja tiap planet memiliki komposisi yang berbeda. Kemudian pengaruh dari radiasi yang diterima tiap planet juga berbeda, maka proses yang terjadi pada tiap2 planet akan berbeda satu-sama lain.

Bumi yang awalnya berupa benda pijar yang panas perlahan2 mengalami pendinginan (energi yang disimpannya cuma sedikit lho, ga sebanyak bintang). Sesuai hukum thermodinamika yang gua sendiri ga tau persisnya (^_^) bumi mengalami perubahan dari bentuk gas --> semakin dingin --> cair, nah pada saat cair inilah material2 mulai mengelompok dan membentuk bagian2 inti, mantel dan kerak.

Khusus untuk kerak, (uap) air yang mulai terbentuk seiring pendinginan bumi mulai mendingin dan turun ke permukaan bumi menjadi air. Nah karena permukaan bumi masih berupa cairan panas, maka air tersebut menjadi uap lagi sementara permukaannya terdinginkan dan mulai mengeras. bayangkan magma yang disemprot air dalam jumlah banyak, lama2 kan permukaan atasnya akan mengeras (karena mendingin) sementara lapisan bawahnya tetap berupa cairan panas. Nah lapisan keras tersebut semakin lama semakin tebal dan sekarang menjadi 'permukaan tanah' tempat manusia dan makhluk hidup lainnya tinggal. Sementara air yang sebagian besar menjadi laut dan samudra, salah satunya berfungsi untuk menjaga suhu kerak bumi tetap dingin.

bagaimana Cara Membuat Teropong Sederhana?

Siapin:
1.lensa kecil 1 buah(mendingan cari yg bekas)
2.lensa besar 1buah(--------II----------------)
3.kertas karton 1 buah
4.lem/selotip

langkah2
1.gulung kertas karton(bentuk kerucut, truss rapiin ujung2 nya biar bisa ditempel ama lensa)
3.kertas yg ud d gulung kasi lem/selotip
4.kasi lem truss tempelin lensa besar nya di bagian yg lebar
5.----------------II------------------ kecilnya d bagian ygkecil
6.siap pake

Rabu, 14 April 2010

PROFIL ADEK BAHRI (PUJA SUGANDA BAHRI)

PROFIL ADEK  BAHRI (PUJA SUGANDA BAHRI)

NAMA LENGKAP          : ADEK BAHRI (PUJA SUGANDA BAHRI)
PANGGILAN                  : ADEK
TTL                                  : JAMBU BARU 9 OKTOBER 1993
AGAMA                          : ISLAM
ANAK KE                       : 4 DARI 4 BARSAUDARA
HOBI                               : MAIN FUTSAL
CITA-CITA                     : INGIN JADI ORANG YANG BERGUNA
EMAIL                            : adek_bahrikeren@ymail.com
                                          adekbahrikeren@gmail.com
SITUS WEB                    : http://adekbahri.blogspot.com

SEKOLAH                      : SMA N 6 PADANG

PROFIL ADEK BAHRI

NAMA                                      : ADEK BAHRI (PUJA SUGANDA BAHRI)
TEMPAT TANGGAL LAHIR   : JAMBU BARU 9 OKTOBER 1993
AGAMA                                   : ISLAM
ANAK KE                                : 4 DARI 4 BERSAUDARA
HOBBI                                      : MAIN FUTSAL
CITA CITA                               : INGIN JADI ORANG YANG BERGUNA
SEKOLAH                               : SDN 05 PASAMAN
                                                    SMPN 2 PASAMAN
                                                    SMAN 6 PADANG
EMAIL                                     : adek_bahrikeren@ymail.com
                                                   adekbahrikeren@gmail.com
WEB                                          : http://adekbahri.blogspot.com

Minggu, 11 April 2010

Michael Schumacher Tops Drivers' Earnings in 2010

The news about drivers' earnings in Formula One have always made the headlines, especially now that Michael Schumacher has joined the series after 3 years of inactivity. The rumors about his Mercedes GP retainer have surfaced in the media continuously through the past 3 months, which is why German publication Bild decided to post a top on this particular topic.

And who else whould the Germans start with if not the 7-time world champion. According to the tabloid, it seems that Schumacher's retainer for the 2010 season – not his entire 3-year deal with Mercedes GP – is no less than EUR25 million, not EUR7 million as initially projected.

Nevertheless, it seems that the German's salary is not paid by the Stuttgart-based carmaker, but by his sponsors. In some recent interviews with the German media, Daimler AG's CEO Dieter Zetsche insisted that his company would not pay that kind of money for fielding Schumacher in the series, while Merc's motorsport director Norbert Haug hinted that the sponsors are the ones who pay for Schu's retainer.

Second on this top is Fernando Alonso, the 2-time world champion that was signed by Ferrari prior to the 2010 season. According to the German reporters, the Oviedo-born driver earns as much as EUR18 million per year, followed by 2008 F1 champion Lewis Hamilton (with EUR16 million). Therefore, we can assume the value of the drivers' retainers is based on the number of titles they have secured in the past.

The other world champion present on the 2010 F1 grid, Jenson Button, is reportedly earning EUR12.5 million per season, only half of million more than Red Bull's Sebastian Vettel. That's pretty impressive for the 22 year old driver, considering that he handles his own business in the series (he never had a manager).

Other drivers that made the Top 10 were Mark Webber (EUR7 million/season) and Nico Rosberg (EUR6 million/year). Personal endorsements were included in the figures mentioned above.

rossi

valentino rossi

Template by : kendhin x-template.blogspot.com